Lelaki Terakhir yang Menangis di Bumi

M. Aan Mansyur


Lelaki Terakhir yang Menangis di Bumi

Lelaki Terakhir yang Menangis di Bumi

  • Title: Lelaki Terakhir yang Menangis di Bumi
  • Author: M. Aan Mansyur
  • ISBN: 9797808165
  • Page: 369
  • Format: Paperback



Kau percaya masa depan masih memiliki kita Akan selalu ada kita Aku percaya NANTI tidak bisa begitu saja menoleh dan pergi dari masa lalu meskipun ia sudah berkali kali melakukannya Terakhir, ia mengucapkan selamat tinggal dan menikah dengan lelaki yang kini berbaring di makamnya itu.Aku tidak pernah ingin mengucapkan selamat tinggal.Aku tidak pernah mau beranjak dar Kau percaya masa depan masih memiliki kita Akan selalu ada kita Aku percaya NANTI tidak bisa begitu saja menoleh dan pergi dari masa lalu meskipun ia sudah berkali kali melakukannya Terakhir, ia mengucapkan selamat tinggal dan menikah dengan lelaki yang kini berbaring di makamnya itu.Aku tidak pernah ingin mengucapkan selamat tinggal.Aku tidak pernah mau beranjak dari masa lalu.Masa lalu, bagiku, hanyalah masa depan yang pergi sementara.Namun, ada saatnya ingatan akan kelelahan dan meletakkan masa lalu di tepi jalan Angin akan datang menerbangkannya ke penjuru tiada Menepikannya ke liang lupa Dengan menuliskannya, ke dalam buku, misalnya, masa lalu mungkin akan berbaring abadi di halaman halamannya.Maka, akhirnya, kisah ini kuceritakan juga.


Recent Comments "Lelaki Terakhir yang Menangis di Bumi"

Sebagai seorang yang puitis, Aan Mansyur membanjiri novel ini dengan kata-kata yang indah di setiap baris. Bagus? Bagi penggemarnya mungkin iya. Tetapi bagi saya, yang berusaha seobjektif mungkin (karena ketika membaca novel ini dibayang-bayangi kata "selebtwit", alih-alih "penyair"), terasa begitu membosankan. Tidak ada letupan-letupan atau kekaguman yang saya rasakan terhadap kata-katanya, pun ceritanya yang klise. Alurnya yang dibuat maju mundur menjadikan akhir cerita mudah ditebak bahkan di [...]

Tidak mudah untuk membahas buku ini tanpa membeberkan sedikit ceritanya. Jadi, maafkan saya sebelumnya kalau di ulasan ini saya secara tidak sengaja menyebutkan hal yang bersifat spoiler. Tapi sebenarnya tidak ada juga hal yang cukup mengejutkan di buku ini karena bagian blurb-nya yang nggak nyambung itu (atau bisa dibilang saya yang nggak nangkep maksud blurb-nya) sudah mengungkapkan inti cerita buku ini.Ketika awal membaca, saya cukup terkejut setelah mengetahui kalau buku ini adalah sebuah no [...]

Kalau kamu mati, kamu akan meninggalkan apa? Atau, apa yang sudah kamu persiapkan seandainya kamu mati nanti?Jiwa Matajang (mak, nama tokohnya keren!) meninggalkan manuskrip yang bisa saya sebut semi-biografi Jiwa yg ia tulis sendiri. Di dalam cerita, Jiwa memang seorang penulis. Isi naskah novelnya? Tentang (sebagian kecil atau besar?) perjalanan hidupnya. Dari masa kecil, hingga saat-saat sebelum kematian menjemputnya. Tapi intinya, ia bercerita tentang rasa cintanya kepada Nanti, kekasihnya y [...]

Buku kedua dari M Aan Mansyur yang saya baca. Buku ini mungkin bisa dibilang sangat filosofis dan idealis. Yang mana tokoh Jiwa adalah seorang idealis bajingan. Saat membaca novel ini, saya terus berpikir. Berpikir tentang sudut pandang kehidupan, masa depan, dsb.Hal yg sangat disayangkan dari buku ini adalah bahwa Jiwa tidak menikah dgn Nanti. Sunggu tragis, sangat tragis malah. Keputusan Jiwa untuk jadi "bujangan tua"-- walaupun ia bukan bujangan lagi--adalah keputusan terbodoh. Dan menurut sa [...]

Nanti dan Jiwa semoga hidup dalam kehidupan yang lebih baik di ruang kehidupan yang jauh lebih baik, dari kehidupan yang telah ada atau yang ditiadakan.

Saya ingin berterima kasih pada Aan Mansyur yang telah menuliskan novel yang; saya ingin mengatakan novel ini indah. Tetapi, hidup selalu punya tetapi. #eh

Ini kali pertama saya membaca tulisan Aan dan saya akui bahawa saya sudah mulai jatuh hati terhadap bahasanya yang indah dan mudah difahami. Saya dibawa jauh ke dasar hidup Jiwa dengan merenangi rentetan hidup Jiwa dari kecil. Buku ini benar-benar memberi erti sepi. Kedua-dua POV menjadikan cerita ini seperti sebuah cerita nyata, walaupun Aan ada menyatakan ini adalah rekaan semata-maya dan boleh jadi ianya cerita yang benar. Pergaulan perasaan cinta dan kesepian menambahkan lagi emosi kepada sa [...]

Saya menyesal tidak mengetuk pintu saat book launch, meski saat itu saya hanya perlu menggamit gagang pintu Museum La Galigo. Banyak sekali tanya yang hendak saya sampaikan. Termasuk untuk buku ini, saya heran sendiri, mungkinkah Jiwa dalam buku ini adalah "jiwa" Aan Mansyur sendiri. Penasaran saya terjawab di "Lampiran atau Beberapa Perihal Kecil yang Ditulis oleh M Aan Mansyur Khusus untuk Anda". Buku ini, novel puitis. Hampir di tiap halaman, seperti sedang membaca sepilihan sajak romantis na [...]

Sepertinya sebuah kesalahan besar bagi saya karena membaca novel Aan Mansyur ini, di tengah upaya untuk menghindar dari masa lalu, Aan malah menyarankan untuk hidup dan berdamai dengan masa lalu. Sudah tidak perlu diragukan, bahasa-bahasa puitis membanjiri sekujur novel ini, banyak kalimat-kalimat yang quotable dan akan tampak keren jika diposting di media sosial sebagai status.Tapi, saya mengucapkan banyak terima kasih untuk Aan yang sudah menulis ulang novel ini, dengan konsep yang tidak jauh [...]

i don't do twitter anymore nor i got the promotion from somewhere else.For those who doesn't know the way his poem works, you should read Chairil Anwar's works. you don't expect a book from a poet, you expect a poemally love the footnote. it's like i'm reading this book with Nanti besides me and she always blabbing about every detail :)and i can relate with this toooo much, and it kinda hurts hhaha

Kehidupan selalu memiliki tetapi, sama halnya dengan buku ini. Kegetiran hidup didamaikan oleh sepi dan kesendirian tetapi pembohong ulung sekalipun selalu gagal membohongi dirinya sendiri. ps. nama-nama tokohnya bagus; Mimpi, Hujan, dan Nanti.

Jujur, saya bingung harus memberi tanggapan apa. Namun, saya tergelitik untuk menjadi bagian yang membuat bintang yang tidak terlalu banyak bagi buku ini. Saya selalu menyukai karya- karya puisi Aan Mansyur dengan karakter emosi yang tersampaikan melalui diksi- diksi yang indah; dan "nature" Aan itulah yang banyak menyelamatkan buku ini. Walaupun, saya terkadang agak risih dengan bahasanya yang puitis dan "berlebih-lebih" seperti kutipan- kutipan cinta di media sosial. Apalagi, catatan kaki di s [...]

Menjadi lelaki terakhir yang menangis di bumi, aku melihat seorang lelaki yang begitu pesimis akan dirinya sendiri. Ia jatuh cinta, begitu gila pada satu sosok wanita.Baginya, sebagai lelaki ia berusaha memperbaiki nama laki-laki ketika ayah dan kakeknya menjadi bajingan di mata wanita. Ia hidup bersama wanita yang bertahan pada kesetiaannya. Ibu dan neneknya.Tapi ia juga hidup dan mengenal seorang lelaki yang memilih setiap pada cintanya. Seorang pria yang jatuh cinta pada ibunya. Kehidupan yan [...]

Setelah Kukila, ini jadi bacaan kedua dari Aan Mansyur yang genrenya bukan puisi. Tepatnya ini novel yang menceritakan tentang Jiwa yang patah hati karena ditinggal oleh Nanti, mantan kekasihnya, untuk menikah dengan lelaki lain. Setelah itu, Jiwa berusaha untuk jatuh cinta pada perempuan-perempuan lain, namun ternyata tak semudah itu.Novel ini unik, karena meski Jiwa yang bercerita, namun kita dapat melihat dari sudut pandang Nanti juga. Nah, caranya ini yang unik, sudut pandang Nanti dihadirka [...]

Ceritanya biasa saja, sebenarnya. Tidak Ada sesuatu yg 'wah' dlm bku ini. Hanya saja, karena yang menuliskan adlh seorang Aan Mansyur yg selama ini dikenal sbg seorang penulis puisi, jadi yah, saya akui bangunan kata yg digunakan untuk penceritaan dlm novel ini memang indah. :')

silakan klik link berikut :ahmadrofai.wordpress/2017

Novel kedua Aan Mansyur setelah Kukila yang saya baca. Kesimpulan saya tetap, once a poet is a poet. Saya suka sekali membaca puisi-puisi Aan, tapi tidak novelnya.

Buku ini sangat unik, setidaknya begitu menurutku. Mungkin karena aku belum pernah membaca buku yang seperti ini. Sebenarnya, dimana letak keunikannya? Mari kita bahas!Pertama, tentu saja, judulnya sangat unik! Bagaimana bisa Lelaki Terakhir Yang Menangis di Bumi dijadikan sebuah judul dari novel? Pada awalnya, aku sangat penasaran dengan isi dalam buku ini. Mungkin karena aku melihat judulnya (biasanya, sebuah buku dapat menentukan ‘tema’ , ‘ciri khas’, atau bahkan ‘konflik’ dari ce [...]

Ini novel pertama, tepatnya, karya pertama Aan Mansyur yang saya baca. Novel, yang menurut saya, bergenre romance ini menyuguhkan cerita yang sederhana, namun mengalir. Kata-kata yang puitis namun tidak terlalu berlebihan mendayu-dayu. Saya cukup terbawa ke dalam alur ceritanya. Namun, di luar itu semua, saya sangat suka dengan model penyampaian kisah yang, entah benar atau tidak, dibuat sendiri oleh Aan Mansyur ini. Jiwa, tokoh utama yang dikatakan Aan Mansyur sebagai kerabatnya yang telah mati [...]

Pada awalnya, saya tertarik ketika novel ini diberitahukan merupakan sebuah catatan perjalanan cinta yang belum sempat diterbitkan oleh penulisnya sebelum ia pergi. Saya menganggap bahwa catatan ini merupakan hasil tulisan dari dua orang yang terlibat di dalamnya.Tetapi, hidup selalu punya tetapiKemudian, di separuh jalan, saya menutup buku ini dan tidak menemukan kapan waktu yang tepat bagi saya untuk melanjutkan membaca novel ini hingga selesai, karena ceritanya begitu digambarkan dengan sanga [...]

Saya belajar banyak hal dari novel ini. Novel yang bagus, terlebih banyak kata puitis dalam buku ini Ini novel atau autobiography saya. Entahlah! Saya seperti membaca kisah saya sendiri. Saya punya banyak kesamaan dengan Jiwa, si pemeran utama dlm novel ini. Kita sama sama suka nulis, kopi, buku, dan begadang. Saya juga mudah jatuh cinta pada seseorang, seperti Jiwa. Dan anehnya kita sama sama terbelunggu dalam jeruji gigi seorang wanita. Namun, ada hal yg membedakan saya dengan jiwa, tentang pe [...]

Saya sebenarnya ingin membeli Tidak Ada New York Hari Ini. Tapi begitu tahu itu buku kumpulan puisi, saya menjatuhkan pilihan ke buku ini. Saya nggak gitu suka sama buku kumpulan puisi, sama sekali, kecuali ya puisi-puisi kakek Sapardi, the one and only.Begitu membaca halaman awal buku ini dan menemukan banyak kata-kata puitis, ya salam, saya ragu bisa menamatkannya. Tapi ya, toh saya bisa menamatkannya. Barangkali karena paradoksial dalam diri saya. I hate poems. Tapi sekali dua kali saya menul [...]

Ini adalah antara buku yang sukar untuk saya habiskan. Bukan kerana ia sukar difahami atau membosankan. Buku ini antara buku yang tidak mahu saya habiskan segera.Setiap bab, setiap perenggan membuatkan otak berkecamuk ingin menulis juga perkara yang sama dalam konteks yang berbeza. Setiap ayat membawa kita untuk berfikir sama dan kadangkala menyanggah atau geram dengan tindakan watak. Jika diikutkan buku ini mengangkat kisah cinta yang biasa. Namun garapan dan olahan serta stail persembahannya u [...]

"adakah cinta yang jatuh kepadamu, melebihi cintaku?" mungkin sebait puisi karya aan mansyur ini bisa sedikit menggambarkan isi dari novel ini. tentu saja saya suka membacakarya2 aan mansyur, pengarang ini pandai menciptakan misteri cerita , kemudian megurainya dengan cara menyeret pembaca untuk ikut mengalir sampai akhir. di ovel ini akan banyak bermunculan kata2 bernafaskan puisi yg membuat bahasa ceritanya lebih berbunyi. bercerita tentang Jiwa Mattajang dan kekasihnya Nanti Kinan yg harus te [...]

Buku ini bercerita tentang Jiwa dan masa lalunya. Jiwa digambarkan sebagai seorang anak laki-laki yang mengidap kelainan pada jantungnya dan juga memiliki kebencian pada laki-laki karena sejak kecil ia ditinggal oleh ayahnya entah kemana. Jiwa juga adalah lelaki yang mengagumi neneknya dan mencintai ibunya. Jiwa adalah orang yang menyukai hujan, dan dia menikmati setiap tetes air itu jatuh, dia menganggap Hujan adalah nama seorang gadis ‘diatas sana’ yang sedang menangis.full review bisa dic [...]

*very late review* It's a bit boring. I couldn't find something new, something surprising from this book because Aan keeps writing the same things/facts that he also writes in another book. I mean, I know that Jiwa kinda represents him, but I (and perhaps the other readers too) want something different to know. Like, the fact that his father left him since he was little or about his grandmother who is a goof storyteller. But besides that, what I still amaze about Aan is that he could write a ver [...]

Saat tiba di halaman-halaman pertama buku ini, yang terlintas di benak saya adalah kalimat puitis dan terkadang tidak saya mengerti.Tapi semakin ke belakang, buku ini semakin enak dibaca, dan kalimat-kalimatnya mengalir deras seperti sungai. Tidak terasa, saya menghabiskan buku ini hanya dalam waktu total 4 jam saja. Selain penulisan yang tidak ribet, cerita yang klise bisa diubah menjadi suatu kejadian yang sarat makna oleh Aan Mansyur. Tidak lupa, tangan dingin Bernard Batubara sebagai editor [...]

"Seseorang harus menjauh dari orang yang ia cinta agar betul-betul hidup bersamanya."Novel ini menceritakan kehidupan Jiwa dan kekasihnya, Nanti. Tak hanya seputar kisah cinta mereka (lebih fokus ke Jiwa), namun juga tentang menulis dan perjuangan mendirikan perpustakaan bersama, mulai dari perpustakaan punggung hingga perpustakaan permanen seperti pada umumnya. Pun tentang keluarga Jiwa. Tentang bagaimana memeram kehilangan dan merekam kenangan.Dilarang Baper."Menulis adalah perang melawan sepi [...]

Jika beberapa paragraf dipilih di buku ini, lalu dibikin seperti bentuk puisi. Maka ia betul-betul dapat dikatakan puisi. Pikir saya.Gaya cerita sendiri saya tidak terlalu menpermasalahkannya: bukan juga saya mengatakan 'aku menyukainya'.Saya menikmatinya pertama-tama namun lama-lama juga jenuh dengan bahasa yang terlalu melankolis dan sedikit humor. Ya, novel ini sangat melankoli.Saya pikir 3 bintang setelah cerita+ gaya penulisannya yang puitis itu.Apakah saya menikmati? Iya. Saya melankolians [...]

Saya baru tau sebenarnya bahwa Aan Masnyur menulis novel. Novel ini ditulis dengan bagus. Kalau bisa menyebut, novel ini merayakan apa yang sering disebut oleh Soe Hok Gie: buku, pesta dan cinta. Juga merayakan kesendirian, idealisme dan romantisme. Cukup bagus untuk menghabiskan waktu, namun sayang tak ada hal yang mampu membuatnya menggerakkan sebuah perubahan, kecuali untuk mengenang bahwa novel ini nikmat sekali untuk dibaca.


  • Best Read [M. Aan Mansyur] ☆ Lelaki Terakhir yang Menangis di Bumi || [Mystery Book] PDF ✓
    369 M. Aan Mansyur
  • thumbnail Title: Best Read [M. Aan Mansyur] ☆ Lelaki Terakhir yang Menangis di Bumi || [Mystery Book] PDF ✓
    Posted by:M. Aan Mansyur
    Published :2018-08-22T08:39:36+00:00

Recent Posts

Game of Gnomes
Last Kiss
The Big Mama Collection: Sparkly Green Earrings / ...
Craig Kielburger: Free the Children
Visiting the Art Museum
Why I Will Never Ever Ever Ever Have Enough Time t...
La Rse - La Responsabilite Sociale Des Entreprises...
Il Etait Une Fois, Au Fond Des Bois...
Une A(c)Ducation Europa(c)Enne
Perspektiven Einer Pluralen Okonomik
Fishhead
Lack of the Irish

Popular Recent

A Well-Paid Slave: Curt Flood's Fight for Free Age...
Riders of the Wind
Cybercrime, Cyberterrorism, Cyberwarfare: Averting...
Last Ditch
Marriage and Morals
This My People
His Innocent Temptress (Texas Sheikhs)
Curtain: Poirot's Last Case
The Love Bug
A Gathering of Angels